My Favorite ustadz
Saya menulis artikel ini bukan karena hendak berpoligami atau yang semacamnya. Hanya menuliskan saja sebuah pesan dari seorng ustadz yang saya kagumi. Beliau adalah ustadz Arifin Ilham_seorang ustadz TV. Kenapa saya tulis ustadz TV, ya karena salah satu (catat: SALAH SATU) sarana dakwah beliau adalah melalui layar kaca.
Jujur saja tidak semua penceramah yang mendapat label ustadz di TV saya jadikan referensi. Meski kapasitas ilmu saya belumlah mumpuni untuk menjustifikasinya, tapi setidaknya bolehkan jika saya memfavoritkan beberapa saja dari Da’i TV yang bertebaran? Boleh, kenapa tidak. Ustadz Arifin Ilham adalah most favorite ustadz bagi saya. Saya jelaskan alasannya.
Pertama, beliau berdakwah offline (di luar TV) porsinya lebih banyak dan sudah dimulai sebelum sering terlihat di layar kaca. Jadi, beliau tidak ”cari duit dan sensasi” dari TV. Ilmu beliau pun menurut saya sangat mumpuni, karena memiliki background pesantren yang jelas serta terlihat dari tausiyahnya yang bernas!
Kedua, ustadz Arifin senantiasa rendah hati di hadapan siapa saja. Misal, beliau selalu menyebut kata “Arifin” untuk menunjuk dirinya dan menyebut tamu beliau baik yang sudah sepuh atau yang lebih muda dengan ayahanda, ustadz, atau kyai sebelum nama-nama mereka disebut.
Ketiga, ajaran beliau mau merangkul semuanya. Tidak merendahkan pihak lain atau menuai kontroversi dengan manuver-manuver fatwa yang membuat heboh. Cukup mengajak berzikir dan kembali pada-Nya. Beliau juga mencintai masjid dan shalat shubuh berjamaah di masjid. Sehingga acara Majelis Zikir Adz Dzikra selalu diadakan di masjid setelah beliau memimpin sholat shubuh berjamaah. Apabila TV ingin meliput, datangkan kru nya ke masjid, bukan zikirnya yang berada di studio.
Sementara itu.
Pesan Ustadz Arifin tentang Poligami
Nah, ini dia tulisan sebenarnya setelah paragraf singkat tentang ustadz Arifin Ilham. Tausiyah ini saya kutip dari sini. Begini pesan ustadz bagi umat muslim yang akan berpoligami.
Ramadhan tahun 2009, ustad kelahiran Banjarmasin, 8 Juni 1969 itu dalam tausiyahnya pernah menyampaikan 4 syarat jika berniat memiliki istri lagi. Ia juga menghimbau jangan terburu-buru.
“Empat syarat itu harus dipenuhi,” kata Ustad Arifin Ilham dikutip detikRamadan dan beberapa sahabatnya di sebuah saung dekat rumahnya, kompleks pemukiman muslim Bukit Az-Zikra, Sentul Selatan, Jawa Barat, Jumat (11/9/2009).
Syarat pertama, jelas Arifin, Muslim yang hendak berpoligami harus sukses membina rumah tangga pertamanya. Dia harus sudah teruji berhasil mendidik dan menjadi memimpin rumah tangga.
Kedua, yang bersangkutan harus memiliki fisik prima. Karena ia harus memenuhi nafkah biologis dan batin dari dua wanita atau lebih dalam kesempatan yang dekat.
Ketiga, dia harus mempunyai harta kekayaan yang cukup. Ini yang harus disadari. Sebuah rumah tangga pasti memerlukan harta yang cukup apabila ingin berjalan dengan baik. jangan hanya bermodal “mau” namun belum mempersiapkan sisi finansial.
Dan keempat, dia mengetahui manajemen poligami. Manajemen poligami yang dimaksud ustadz Arifin adalah pelaku poligami harus bisa berlaku adil. Adil dalam hal ini bukanlah sama rata, melainkan proporsional.
“Ada orang yang istri tua anaknya lima, istri muda anaknya satu, itu uangnya harus lebih banyak kepada istri yang pertama. Tapi biologis harus banyak ke istri yang kedua,” canda suami Wahyuniwati ini.
Menurut beliau, poligami adalah takdir dan fitrah bagi umat Islam. Ia tidak dapat ditolak apabila masanya telah tiba. Sebaliknya jika melanggar fitrah poligami seorang muslim bisa menderita karena gelisah setiap waktu. Dia juga akan cenderung berzina dan menuruti hawa nafsu setan. Selain itu, kehidupannya tidak akan normal lagi.
Wallahu a’lam bishowwab





