Resep Kemesraan dengan Tuhan

Nha, lagi-lagi berkat servis motherboard PC ku, sekarang aku begadang sampai dini hari. Barusan kudengar alarm ponsel Nokia 9500 ku, Tahajjud Call! Matiin dulu ahhh… aku belum tidur je, kurang afdhol khan kalau tahajjud tapi belum tidur dulu (hehe, alasan….) Nah ketika browsing harddisk, kutemukan lagi tulisan lawasku…ya benar-benar tulisan yang kuketik dengan tanganku. Seingatku sih dulu masih pake PC pentium II yang syuuuper lemot. Tapi kok waktu itu aku bisa ya?? Sekarang, di mana jaman copast merajalela, scan OCR bisa mempersingkat waktu, kok aku merasa dulu lebih BISA ya dari sekarang? don’t know lah mungkin itulah perubahan jaman. Berikut ini artikel yang saya temukan dari file lawas, moga-moga berguna setelah dibaca.

Dekat Kepada Allah Karena Virus HIV

            Sekarang aku bertanya kepadamu kawan, bagaimana rasanya kalau kita tahu bahwa dalam waktu kurang lebih lima tahun lagi kita akan mati? Bahkan kematian itu datang dengan sebelumnya dibersamai dengan krusakan pada organ-organ tubuh kita, ditambah lagi seumur hidup kita akan selalu menjadi penyebar penyakit itu. Bagimana rasanya? Kita simak bersama mutiara kesabaran dari saudara kita ini.

 Sebut saja namanya pak Prasetyo. Usia 35 tahun. Sejak kecil ia diasuh oleh famili, karena ayah ibunya sudah meninggal. Tinggal bersama nenek di Semarang. Menjelang dewasa ia merantau ke Jakarta. Pada tahun 1992 pak Prasetyo pun menikah, dan lahirlah seorang anak laki-laki setahun kemudian. Tak beberapa lama ia pindah ke sebuah perusahaan asing ekspor-impor dengan penghasilan yang memadai.

            Di luar dugaan, ia diindikasi mengidap tumor di siku kanan. Memang bagian itu sering terasa sakit. Akhirnya ia dirawat di salah satu RS di Jakarta Pusat. Saat itu, tangannya akan dioperasi, untuk membuang tumor tersebut. Harapannya besar sekali, bahwa selepas dioperasi, ia akan normal kembali. Di RS itu, untuk mengantisipasi biaya karena menginap berhari-hari,bapak satu anak ini memilih masuk kelas tiga, di lantai lima.

            Namun awal masuk RS, ia terkena tetanus, dan sempat tak sadarkan diri selama dua minggu. Ia menerima tranfusi darah sampai berkantung-kantung. Setelah tetanusnya sembuh, targetnya selanjutnya adalah memindahkan tumor dari lengan. Ia menjalani tes paru-paru, jantung, hingga diambil sampel jaringan tumor di lengan. Kesimpulannya cukup mengejutkan, Tumornya tidak ganas, tetapi cara pertumbuhannya cepat sekali. Inilah yang membuat dokter yang menanganinya bingung. Akhirnya dibawalah hasil tes biopsi itu ke Singapura.

            Ia menunggu hasil tes selama satu bulan. Jadi harapan agar segera dioperasi tak juga terlaksana. Setelah satu bulan menunggu, hasil tes ternyata jauh lebih mengejutkan. Ia diindikasi terkena Sarkoma Kaposi (kanker kulit), yang hanya dimiliki oleh penderita HIV. Akhirnya kembali dilakukan tes, lalu dikirimkan ke Autralia. Ia menunggu selama satu bulan lagi, hasilnya tetap sama.

            Beberapa dokter yang menangani langsung bertanya-tanya soal perilaku seksual pak Prasetyo. Ia jadi bingung, mau ke RS untuk diioperasi, kok malah ditanya hubungan seks segala. Dijawablah dengan sebenarnya, bahwa ia tidak pernah melakukan hubungan dengan orang lain kecuali dengan isteri saja. Tapi dokter tidak percaya,”Kamu bohong kali.” Ia jawab,” Ngapain harus bohong, kalu memang iya ia jawab iya, tapi jika tidak kenapa ia harus bilang iya?” jawab pak Prasetyo tegas.

            Akhirnya ia menjalani tes HIV. Saat itu ia yakin tidak mungkin tertular virus HIV. Di luar dugaan, hasilnya positif. Pertama kali membuka test dengan tangan ia sendiri ia kaget sekali. Bagaimana mungkin ia bisa tertular virus HIV, padahal perilakunya  “baik-baik” saja. Saat itu tidak terfikir bahwa virus HIV bisa menular lewat transfusi darah, virus ia itu ia dapatkan saat transfusi darah beberapa bulan lalu itu.

            Rasanya tak percaya ia bisa terkena virus HIV. Padahal sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama yang baik. Ia tak pernah melakukan hubungan seksual pra nikah. Ia juga tidak menggunakan obat-obatan terlarang, termasuk narkoba suntikan. Namun apa mau dikata, tak ada pihak RS yang mau mempercayai ia. Mereka mengira ia mendapatkan virus HIV akibat hubungan seksual pranikah, tapi ia tetap tidak mau mengakui.

            Akhirnya pada Juni tahun 1998 itu, ia merasa sangat didiskriminasi. Kalau pada awalnya ruang tempat ia dirawat diisi oleh enam pasien, semuanya lantas dipindahkan, kecuali dirinya.Kamar mandi hanya dugunakan olehnya sendiri, bahkan harus ia gembok agar tidak dipakai pasien lain. Sapu yang biasanya disediakan untuk ruangan itu, sudah tak ada lagi. Lemari di ruangan juga dikunci. Ia tidak boleh meninggalkan ruangan. Ia merasa diisolasi. Bahkan suster-suster tak ada yang mau datang. Memberi makan saja sering lewat jendela. Beberapa dokter yang biasanya rutin datang untuk melihat kondisinya, tak ada yang datang lagi.

            Keadaan itu sangat jauh dari yang ia bayangkan semula. Yaitu segera dioperasi dan dapat beraktifitas lagi. Ia sempat shock, kok akhirnya jadi begini. Setelah “diisolasi” selama dua minggu, seorang suster menghubungi dokter Syamsyuridjal (Dr.dr. Syamsuridjal, SpPD KAI). Akhirnya dokter Ridjal datang ke ruangan. Beliau datang “biasa saja”, tidak pakai sarung tangan langsung memeriksa tubuh pak Prasetyo. Saat itu akibat tumor dan depresi yang parah, berat badannya menyusut tajam dari 80 kilo sewaktu masuk RS, kini menjadi 47 kilogram. Ia jadi kurus, dan itu seolah membenarkan bahwa ia memang sakit AIDS. Bahkan seorang dokter dengan enteng mengatakan kalau ia tidak menjaga kesehatan dengan baik, usia ia paling-paling hanya tinggal empat bulan lagi. Bagaimana tidak stress mendengarnya.

            Dr. Syamsu berpendapat lain. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda orang yang sakit AIDS di tubuh pak Prasetyo. Beliau tidak melihat adanya bercak-bercak hitam pada lidah dan tidak demam tinggi. Bahkan ia masih bisa beraktifitas tanpa bantuan orang lain. Satu-satunya yang terlihat parah adalah tangan kanannya yang mengecil. Dr Syamsu sempat meragukan tes HIV ia, dan menyarankan untuk melakukan tes kembali. Waktu itu muncul secercah harapan bahwa ia memang tidak terkena AIDS. Dr Syamsu juga mengatakan jika hasil tesnya negatif, maka harus diulang tiga kali. Tetapi jika hasilnya memang positif, berarti ia memang terinfeksi virus HIV. Namun hasilnya di luar harapan, ia memang positif HIV

            Ia lantas dipindahkan ke lantai 6. Ditempatkan di ruang khusus. Saat itu ia tidak merasa diisolasi, karena alasannya jelas, yaitu justru agar ia tidak tertular penyakit dari pasien lain. Pada awalnya ia enggan dipindahkan karena takut akan diperlakukan sama seperti sebelumnya. Ternyata di lantai 6 ia dirawat seperti layaknya pasien yang lain. Tak ada diskriminasi. Suster-susternya terampil dan berpakaian seperi biasa. Tidak ada yang takut. Begitu ia masuk, mereka berkenalan dan mengajak ia bersalaman, tanpa sarung tangan. Saat itu kepercayaan dirinya mulai tumbuh kembali. Ia dirawat di sana selama dua bulan. Harapan untuk dioperasi kembali membuncah.

            Sekali lagi harapan ia harus pupus, karena menurut pihak Rumah Sakit, lengan ia itu sudah tidak mungkin dioperasi. Satu-satunya cara adalah dengan mengamputasinya!

Awalnya ia menolak. Tetapi setelah ia diberi pilihan antara diamputasi atau pulang dengan lengan kanan yang bertambah parah, akhirnya ia bersedia untuk diamputasi lengan, meskipun dengan berat hati.

            Setelah ia pulang ke rumah, dengan satu tangan, muncul kembali pertanyaan,”Kenap ia tidak mati-mati? Padahal katanya usia ia tinggal empat bulan” Ia juga tertekan melihat istri_yang sebelumnya ornag rumahan, harus keluar rumah untuk bekerja. Seharusnya kan ia yang harus memberi nafkah. Ia sudah mencoba kembali melamar pada perusahaan ia yang lama, tetapi ditolak karena karyawan yang dibutuhkan adalah karyawan yang bertangan dua. Begitupun di perusahaan yang lain, semuanya ditolak.

            Kesadaran tidak dapat lagi memberi nafkah lahir batin kepada istri terus membebani pikirannya. Padahal istrinya berkali-kali mengatakan, tak masalah. Ia tetap tak ingin berpisah. Anak laki-laki pak Prasetyo juga tetap menyayanginya. Pernah sambil menangis ia tanyakan, apakah ia malu memiliki ayah yang cacat sepertinya? Anak itu langsung menjawab tidak. Ia juga bilang tidak malu pergi kemanapun bersama ayahnya yang buntung. Ya Allah, sambil berlinang air mata, ia sujud syukur.

            Namun perasaan tidak bisa lagi membahagiakan mereka terus membebani. Memang ia bisa memberikan kasih sayang, namun itu semua dirasakan tidak cukup. Perasaan itu juga sangat mempengaruhi kesehatannya. Padahal ia tahu, seorang yang terkena HIV tidak boleh terlalu banyak pikiran berat, karena akan mempengaruhi kesehatannya dan akan mempermudah datangnya AIDS. Ia sudah mencoba hidup selama 8 bulan bersama keluarga, tapi kenyataannya justru ia tidak bisa. Ia merasa sangat tertekan.

            Ia benar-benar berpikir keras, dilanjutkan atau tidak rumah tangganya. Akhirnya, walaupun awalnya istri menolak, ia putuskan mereka berpisah. Mereka berpisah secara baik-baik. Anaknya ikut ibunya. Dengan begitu ia merasa sehat, istri juga. Daripada nanti ia menularkan. Mudah-mudahan ini jalan yang etrbaik bagi diri pak Prasetyo dan keluarganya.

            Alhamdulillah, dalam kesendirian ini, ia tidak tinggal shalat. Walaupun ada proses tawar-menawar dan penolakan kenyataan hidup. Sewaktu masih tinggal bersama keluarga, ada LSM yang perduli dengan ODHA (Orang Dengan HIV/ AIDS) yang berkunjung ke rumah. Akhirnya pada akhir tahun 1999 ia bergabung dengan LSM tersebut. Di sana, ia menjumpai banyak teman yang senasib. Semangatnya menjalani hidup mulai tumbuh. Ia merasa tidak sendirian. Pak Prasetyo pun akhirnya menerima, bahwa di dalam tubuhnya itu terdapat virus HIV.

            Kini ia selalu berusaha berjiwa positif. Ia menjaga pikiran, jangan sampai stress lagi. Ia menerima kenyataan adanya virus HIV dalam tubuh, dan harus menjaga kesehatan. Namun ia tidak minum obat “resmi” bagi orang terkena HIV. Harganya ia rasakan terlalu mahal. Ia minum ramuan-ramuan saja. Ia ingat, dulu dokter pernah mengatakan usia ia tinggal empat bulan lagi. Ternyata, hingga waktu itu, Alhamdulillah ia tetap sehat. Berat badannya normal kembali, bahkan cenderung “berlebihan”. Ia tetap dapat berpuasa Ramadhan. Alhamdulillah, ia tidak mudah sakit. Ia kini juga sudah lancar menulis dengan tangan kiri dan tidak pula risih berpergian dengan tangan sebelah saja. Di LSM kadang ia justru memberi semangat kepada teman sesama ODHA yang belum bisa menerima kenyataan. Ia juga heran, kok bisa memberi semangat mereka, padahal ia sendiri terkena virus HIV.

            Tak lupa ia juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Alhamdulillah, pak Prasetyo merasa lebih dekat kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sholat lebih khusyu’, puasa lebih serius, dan beribadah lebih giat. Ia berusaha kalau sewaktu-waktu dipanggil-Nya, sudah ada persiapan. Di sisi lain pikiran-pikiran positif akan ia pertahankan. Insya Allah.

Saya akan sangat senang apabila Anda meninggalkan komentar di blog ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s