Hidup Bersih dalam Buku Harianku

Gyaa haha…buku harianku udah ganti berapa kali ya, entah karena habis atau memang kubuang. Isinya banyak yang Garbage, soalnya memang si buku harian tu selain menjadi dokumentasi pribadi juga sebagai ajang marah-marah yang terstruktur haha…

Aku pernah nulis jelek-jelek dan misuh yang mungkin tak bisa kupercayai bahwa aku menuliskannya. Yang penting tidak kuucapkan, apalagi pada orang lain. Rasanya habis itu plooooong banget. Itulah kenapa aku menyayangi buku harian sekaligus membencinya. Dasar aneh. Sekarang seiring perkembangan teknologi dan mahalnya internet di Indonesia, saatnya membalas dendam pada hosting gratisan dari wordpress ini. Buku harianku bisa dibaca siapa saja…hahaha…itu kalo mau, kalo tidak ada yang mau, minimal aku sudah ploooong…. shhhh haaahhh

Ni dia tulisanku dulu tentang Kebersihan (yang aku sendiri merasa masih nol besar dalam urusan yang satu ini):

Jalan-jalan Kebersihan

Berikut ini adalah beberapa “jalan” kebersihan yang ditanamkan oleh Islam sejak berabad-abad yang lalu kepada kaum muslimin:

Dari Aisyah, ia Radhiyallahu anha berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sepuluh perkara yang termasuk fithrah :  memangkas kumis, memelihara (merawat) jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, menggunting kuku, mencuci lekuk-lekuk jari, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan beristinja’”Mushab ibn Syaibah, salah seorang rawinya berkata “Aku lupa yang ke sepuluh, mungkin berkumur.” (HR Muslim)

Sebentar, jangan buru-buru ambil gunting dan pisau cukur dulu, masih ada lagi nih tuntunan dari Rasulullah saw untuk kita semua yang beliau sayangi :

      Byur…byur..mandi

Meskipun di jazirah arab air merupakan “harta” yang sangat bernilai, namun Islam yang diturunkan di arab telah mengajarkan kepada pemeluknya untuk memakai harta tersebut untuk membersihkan harta lain yang tak kalah penting, yaitu tubuh yang merupakan amanah dari Allah. Indikasi ini berdasarkan sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id yang berbunyi:” Mandi pada hari Jumat itu wajib bagi semua orang yang sudah baligh dan mukalaf.”  Itu bagi bangsa Arab yang kondisi airnya tidak semelimpah di negeri kita ini. Jadi untuk ngeri kita yang tidak sulit air, tentunya hak tubuh untuk bersih dan sehat patut dipenuhi bukan?

Bang Teguh Imam Perdana menceritakan lagi bahwa kemajuan Islam tempo itu telah mendahului peradaban Eropa. Orang-orang Eropa tidak begitu akrab dengan yang dinamakan mandi, tak heran tubuh mereka jarang sekali tersentuh air hingga lusuh dan kumal. Contohnya istana Versailles di Prancis. Arsitektur istana termegah di negerinya Louis XIV itu tidak ditemukan saluran atau sirkuit untuk jalan air. So, kata bang Teguh Iman Perdana, tidak heran jika Prancis merupakan penghasil parfum yang terkenal di dunia (karena dulu orangnya jarang mandi he he he).

      Wudhu

Wudhu selalu identik dengan shalat. Karena shalat dalam Islam berbeda dengan cara sembahyang agama-agama lain, karena shalat dalam Islam memiliki beberapa keistimewaan, yaitu: kesucian badan. Jika shalat merupakan kunci surga, maka wudhu merupakan kunci shalat tersebut. Sabda Rasulullah saw: “Allah tidak menerima shalat yang dilakukan tanpa bersuci” (HR Muslim, Ibnu Majah dari Ibn Umar)

PREND, wudhu menurut penelitian juga merupakan salah satu bentuk dari hidrotherapy atau penyembuhan dengan menggunakan air. Memang, sejak dahulu air digunakan untuk berbagai keperluan penyembuhan penyakit. Dari yang hanya sekedar untuk membasuh, berendam, sampai dibuat ramuan dengan bahan-bahan alam. Coba bayangkan, adakah agama lain yang sedemikian memperhatikan kesucian badan saat akan “menghadap” Rabb-nya sebagaimana Islam? Maka tidak heran ketika Rasulullah memberikan perumpamaan shalat lima waktu, adalah seperti mandi di sungai yang airnya jernih lima kali dalam sehari, tentunya tubuh orang yang mandi tersebut akan bersih.

Ane ada cerita. Waktu ada bedah film ‘Eropa menuju Islam” di masjid Syuhada, Yogyakarta, dihadirkan seorang kristolog. Beliau mantan aktivis gereja di ITS dan Unair ketika masih mahasiswa. Ustadz Marjianto namanya. Beliau kagum dengan Islam dan akhirnya kembali memeluknya, salah satunya karena ajaran kebersihan dalam Islam. “Dulu Saya kalu masuk gereja pakai sepatu, nggak peduli di sol sepatu itu ada tahi ayamnya. Pokoknya masuk. Yaa…paling-paling cukup digesek-gesekkan di keset depan pintu gereja. He he he… gimana mau suci hati, tempat ibadahnya kena najis aja dibiarkan.”

Kembali ke wudhu. Hebatnya lagi, wudhu tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah saw saat akan shalat saja. Lebih dari itu, Rasulullah juga mencontohkan untuk berwudhu sebelum tidur. Bahkan untuk cuci tangan sebelum tidurpun juga diwanti-wanti oleh beliau: “Barangsiapa tidur, sementara di tangannya masih ada bekas daging dari mulut dan tidak mencucinya, kemudian ia terkena penyakit janganlah ia menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hiban semua dari Abu Hurairah ra)

Ustadz Arifin Ilham dalam ceramah-ceramahnya juga senantiasa menganjurkan  untuk menjaga wudhu sebagai upaya untuk menjaga kebersihan hati dan perilaku. Yup, kalau dipikir nyambung juga ya. Jika kita sedang dalam keadaan suci oleh wudhu, sayang rasanya kalau melakukan perbuatan yang buruk.  Subhanallah, Islam itu bersih, murni, suci dan cemerlang sebagai agama fithrah manusia.

Banyak kisah menarik seputar wudhu. Kamu kenal Greig Owensby? Itu tuh, seorang Amerika yang kembali ke pangkuan Islam lalu mencetuskan sebuah gagasan cerdas Al Quran seluler bersama Aa’ Gym. Kisah beliau tertarik dengan Islam berawal dari wudhu. Awalnya kang Greig yang memang bekerja di Indonesia, sering berpapasan dengan orang-orang yang berangkat sembahyang di dekat tempat tinggalnya. Ia melihat sebuah perbedaan. Di Indonesia, maaf, meskipun orang yang ia lihat tadi berasal dari keluarga sederhana (kalau kurang nyaman rasanya jika disebut miskin), tetapi wajah mereka senantiasa bersih. Berbeda dengan kaum gelandangan di negerinya sono. Ia melihat gelandangan di Amerika begitu kumuh dan jorok. Lalu ia bertanya, apa yang membuat orang-orang itu begitu bersih wajahnya. Jawabnya sederhana: Karena agama yang mereka anut memerintahkan mereka untuk sering berwudhu. Begetarlah sanubari hidayah seorang warga negara Amerika itu.

      Siwak (gosok gigi)

Tadi sudah disinggung sedikit, anggap saja ini bonus, OK! Kata siwak berasal dari nama sebuah kayu yang sering digunakan untuk menggosok (menyikat) gigi zaman Rasulullah saw dan para sahabat. Konon kayu tersebut mengandung zat tertentu yang mampu berfungsi untuk menguatkan dan membersihkan gigi. Rasullullah bersabda: “Siwak itu membersihkan mulut dan mendapatkan ridha Allah.” (HR Ahmad dari Abu Bakar). Betapa pentingnya bersiwak alias sikat gigi tersebut sampai-sampai Rasulullah pernah berkata bahwa seandainya tidak memberatkan umat beliau, niscahya bersiwak akan diwajibkan setiap sebelum shalat.

Mengapa kesehatan mulut sangat penting? Kesehatan mulut bukan sekadar untuk mendapatkan gigi bersih dan kuat, tetapi ia sebenarnya ada banyak manfaat lain. Selain dapat mengelakkan masalah bau mulut, penjagaan sempurna mampu menguatkan gigi pada usia tua.

Menurut artikel terbitan Mayo Clinic, Minnessotta, mulut sehat akan menghindarkan kita dari beberapa penyakit seperti serangan jantung, strok, dan diabetes. Malah, hasil kajian kesehatan membuktikan kepentingan menjaga kesehatan mulut — yang ada kaitan erat dengan kesehatan keseluruhan badan.Lho kok bisa?

Bisa saja. Karena sebnarnya mulut adalah pintu bagi masuknya bahan-bahan asing ke dalam tubuh. Mulut terkadang juga dapat menjadi penunjuk awal adanya penyakit di dalam tubuh. Misalnya, sariawan yang sulit sembuh di bibir, belum tentu hanya karena kekurangan vitamin C. Bisa jadi ada kerusakan organ di bagian dalam, tetapi efeknya tidak terlihat hampir di semua bagain tubuh yang lain kecuali mulut.

Perlu Kamu ketahui, terdapat kira-kira 50-100 milliar bakteri pada mulut orang dewasa. Baru 20 diantaranya, yang berasal dari spesies yang berbeda, berhasil diisolasi dari lingkungan mulut normal. Mereka antara lain adalah Streptococci, Diphterialike baccili, Lactobaccili, Spirochetes, dan bakteri filamen.

      Bakteria dalam mulut akan senantiasa ‘bekerja’ membentuk plak (zat atau sisa-sisa makanan yang menumpuk di permukaan gigi) yang akan menyebabkan kerusakan gigi. Diperkirakan ada lebih dari 1 miliar bakteri dalam setiap gram plak gigi. (Weleh, bisa jadi peternakan tuch!  Malas bersiwak, terutama sebelum tidur, memberi peluang bakteria membentuk lebih banyak plak yang berkumpul di celah gigi dan gusi yang akhirnya menyebabkan gingivitis (luka pada gusi).

Masih ada lagi, Caries gigi pun bisa datang (carries berasal dari bahasa Latin cariosus, yang berarti pembusukan). Penyebab penyakit ini adalah Streptococcus mutans. Udah deh, kalau gusi mulai luka dan gigi berlubang, lagunya Meggy Z pun mengalun, ”Lebih baik (nggak) sakit gigi, daripada sakit hati ini biar tak mengapa” Ah nggak juga sih, siapa bilang sakit gigi nggak kalah sakit dari sakit hati? Bisa nangis lho!

Nah PREND sekalian, kebersihan mulut, selain berfungsi untuk kesehatan pribadi, juga sosial. Kesehatan sosial dalam arti hubungan dengan sesama manusia. Contoh yang sederhana adalah ketika shalat Subuh berjamaah di masjid. Bangun tidur, perut kosong, belum gosok gigi.  Indikasi bahwa ada “ketidak-sehatan” suasana yang berasal dari mulut kita tanda-tandanya bisa dilihat ketika imam sudah membaca ayat terakhir surat al fatihah. Kalau Kamu menjawab dengan “Aaamiiin” lalu jamaah di kanan dan kiri tiba-tiba menahan nafasnya, berarti ada ketidak beresan pada bau mulut orang diantara mereka. Siapa dia? You know the answer! Hayo, sudah sikat gigi belum malam ini?

Kebersihan Lingkungan

      Dalam bidang Public Health sebagai cabang dari ilmu kesehatan, disebutkan bahwa lingkungan (environment) yaitu segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, dapat mempengaruhi kehidupan manusia dan masyarakat. Gordon dan Le Riche menyebutkan bahwa di antara manusia sebagai inang bibit penyakit (host) dan bibit penyakit (agent) itu sendiri, merupakan sebuah timbangan dengan titik tumpunya adalah lingkungan (environs). Hal inilah yang oleh Medical Ecology dijadikan patokan apakah seseorang itu berada dalam keadaan seimbang (sehat) ataukah tidak (sakit).

Lingkungan sendiri terdiri dari Lingkungan fisik (tanah, air, udara di sekitar kita), lingkungan Biologi (mahluk hidup arround us), dan lingkungan sosial (lingkungan sosial ekonomi, budaya, psikologis dan lain sebagainya).

PREND, kesemua lingkungan ini merupakan “pakaian” bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, dan menentukan keadaan,situasi, kondisi dan toleransi kita. Jadi yang dimaksud dengan pakaian di sini meliputi rumah, pekarangan, binatang peliharaan, perkakas dan lainnya. Untuk itu, Allah swt berfirman dalam surat Al Muddatsir ayat 74:

“ Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan-janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak! Dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu bersabarlah!

Menurut Inu Kencana Syafi’ie, Al Quran bersifat luwes, sehingga ayat-ayat tersebut jika ditilik dari sisi kesehatan dan lingkungan hidup dapat diartikan bahwa yang dimaksud dengan orang yang berselimut adalah rasul Muhammad saw yang ketika menerima wahyu ini sedang ditutupi selimut. Tetapi dalm kesehatan masyarakat dapat diartikan sebagi “Semua orang yang dikelilingi oleh lingkungannya.” Sedangkan ayat selanjutnya adalah perintah untuk memberikan peringatan kepada seluruh manusia supaya mengagungkan Allah swt, membersihkan pakaian untuk mendirikan shalat, dan meninggalkan perbuatan dosa. Tetapi dalam sudut pandang kesehatan masyarakat dapat diartikan sebagai perintah kepada seluruh umat manusia untuk membersihkan lingkungan.

PREND sedangkan yang dimaksud dengan pakaian dalam hal ini, memiliki dua pengertian:

Pertama, pakaian dalam arti sempit adalah segala sesuatu yang kita pakai untuk membalut tubuh dan menutup aurat., seperti baju, peci, gamis, baju, celana, jilbab dan sebagainya, dibersihkan untuk dapat menyempurnakan persiapan untuk menghadap-Nya dalam shalat kita. Rasulullah Muhammad saw (ah, belum bisa kuhilangkan rasa kangen ini padamu yaa Rasul) adalah seorang yang sangat bersih, sehingga kata Abu Bakar ketika menghadapi dan mencium jenazah sahabat, kekasih, sekaligus panutannya itu berkata: “Alangkah harumnya dirimu diwaktu hidup dan wafat.”  Jadi sudah barang tentu Nabi tidak pernah dihinggapi penyakit yang berarti selama hidup beliau.

Kedua, pakaian dalam arti luas adalah segala sesuatu milik kita yang berada di sekeliling kita, seperti pekarangan, rumah, dan sebagainya. Sehingga lingkungan tersebut harus senantiasa bersih. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Bersihkanlah teras rumah kalian dan janganlah kalian menjadi seperti orang Yahudi.” (Tirmidzi meriwayatkan sebagian hadis ini, dan ia menganggapnya lemah. Albani menyebutkan dalam takhrij hadis kitab Al Halal wa al-Haram bahwa hadis ini memiliki jalan lain dari Sa’ad dengan sanad hasan). Bahkan Rasulullah juga memperhatikan kebersihan jalan. Karena menyingkirkan benda-benda berbahaya dari jalan terhitung sebagai sedekah dan merupakan cabang terkecil dari iman.

Termasuk ke dalam hal ini adalah menyingkirkan najis dan segala jenis kotoran. Rasulullah  kembali mengingatkan kita semua;” Takutlah kalian kepada orang yang dilaknati: orang yang buang air (berak) di jalan tempat orang lewat atau di tempat mereka berteduh.” (HR Ibnu Majah, Baihaqi, Hakim dari Mu’adz bin Jabal). Sekarang udah terbukti bukan? Penularan polio di Sukabumi, Kolera, Tifus dan penyakit lainnya salah satu sebab penularannya adalah melalui feses yang dibuang sembarangan, terutama di perairan. Selain menjijikkan juga sumber transmitter penyakit.

Astaghfirullah, tidak perlu jauh-jauh. Coba lihat sekeliling kita, sudah bersihkah WC pribadi, masjid, tempat umum atau bahkan pojok gang kampung kita dari najis dan kotoran? Kalau belum, pantaslah kiranya jika bertebaran berbagai bibit penyakit dari bakteri sampai virus di lingkungan tempat tinggal kita. Dan sebaiknya tak ada yang pantas disalahkan kecuali individu-individu yang menghuni tempat tersebut.

Saya akan sangat senang apabila Anda meninggalkan komentar di blog ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s