Motor China Warna Biru: Puma BX

Kalau saya menulis tentang Yamaha New Jupiter MX atau New Vario Techno dari Honda, pasti banyak yang segera nyambung. Artinya topik tersebut populer. Namun kalau saya menulis Puma BX dari Nasha, pasti kening Anda akan berkerut. Itu merek sepeda atau mesin pemotong rumput? Puma bukannya Panther ya? wkwkwkw, saya maklum. Barusan saya Googling dengan memasukkan kata “Nasha Puma BX” yang keluar malah gambar sepatu merek Puma. Gak ada satu pun gambar motor. Brand Nasha sendiri entah sudah ada di kolong langit nomor berapa wakaka…

Sekedar ngobrol saja, saya mewarisi (atau dalam bahasa Jawanya, nglungsuri) sebuah motor China buatan tahun 2004. Waktu itu motor-motor China sedang booming di Indonesia. Harga murah, desain mirip motor Jepang, dan banyak variasi komponen unik. Saya salah satu penggunanya waktu itu, lha gimana lagi, itu semacam hadiah pernikahan dari Bapak untuk kami. Pas masih kuliah, nikah, dibelikan sepeda motor, siapa yang nggak seneng. Intinya motor itu masih kupakai sampai sekarang.

Sebenarnya juga setelah selama ini mengendarai Jupiter Z biru, motor Puma itu jarang kupakai. Ia hanya teronggok di belakang rumah dengan ditutupi terpal plastik. Kenapa saya tergerak untuk memberesihkan, mengutak-atik, dan memutuskan untuk kembali mengendarainya? Begini ceritanya.

Ngaji itu Isnpirasi

Tadi malam, Kamis (27 Juni 2013) seperti biasa aku ngaji Tafsir Quran Al Bayan di depan rumah (Alhamdulillah, Alloh dekatkan lokasi ngajiku di depan rumah supaya aku bisa memberikan banyak hal dan pelayanan untuk para jamaah tamu dari berbagai desa dari penjuru Klaten). Sebenarnya tema pengajian itu adalah persiapan menjelang Ramadhan. Namun entah mengapa diskusi yang berlangsung hangat membuat ustadz Naskhan menyampaikan tentang klasifikasi kendaraan menurut Imam Syafi’i;

Kendaraan itu dapat berfungsi sebagai:

1. Simpanan ( bekal ), simpanan di sini bukan berarti kendaraan untuk disimpan, melainkan simpanan pahala di akhirat kelak. Kendaraan seperti ini adalah kendaraan yang dipakai untuk beramal soleh; malam itu dicontohkan kalau punya kendaraan ya dipakai lah untuk mengaji, jangan didiamkan di rumah saja. Jika kendaraan dipakai untuk berjihad, beramal soleh, dan mencari nafkah halal, niscahya ketika diberi makan (isi bensin), dirawat, atau ditambatkan (diparkir) saja, terus mengalirkan pahala. Bayang pun! Subhanalloh. Kendraan seperti inilah yang hendaknya kita miliki.

2. Perhiasan, kendaraan yang sebaiknya dimiliki untuk menjaga diri dari meminta atau merepotkan orang lain. Jenis kendaraan seperti ini adalah kendaraan untuk menjaga izzah atau kemuliaan diri. Daripada pinjeeeeeem terus punya saudara atau tetangga, mending beli sendiri meskipun nyicil (angsur belinya). Insya Alloh kemuliaan diri untuk tidak meminta-minta lebih terjaga. Dalam konteks kebaikan, jenis kendaraan ini masih dikategorikan baik.

3. Kesombongan, nah jenis kendaraan seperti inilah yang kepemilikannya membuat pemiliknya tercela. Menyimpan kendaraan hanya demi kebanggaan, mengoleksi tanpa memakai, atau supaya mendapatkan pujian dari manusia, bukanlah jenis kepemilikan yang baik menurut ‘ulama. Kendaraan yang hanya membua pemiliknya sombong, angkuh, dan merendahkan orang lain akan mengundang murka Alloh. Masih ingat kisah Qarun dengan segala kemewahannya?

Oleh karena itulah, Puma BX jadoel yang tak lagi indah itu tadi pagi kubersihkan, kuperbaiki beberapa komponennya, dan kupakai ngantor. Apa pasal, selama ini kalau motor Jupiter yang kupakai, istriku enggan bepergian dengan motor jadoel itu, alasannya karena takut kalau-kalau rusak di jalan (maklum penampilannya agak serem; kap lampu belakang lepas, suara mesin kasar, dan rem terlalu kuat). Namun mengingat kalau pas ada keperluan mendadak, misal membelikan keperluan tiga jagoan kecilku, istriku harus meminjam kendaraan di tempat Om dan bulek dekat rumah, so kuputuskan biar istriku pakai Juier saja dan aku pakai yang Puma. Gak enak kan, punya motor dua, tetapi malah merepotkan orang lain. Toh kalau di kantor, motor cuma kuparkir dan aku kerja di dalam ruangan.

Akhirnya, mengingat tipe kendaraan poin 1 dan 2 dari Imam Syafi’i tadi, kupakai lagi motor lawasku ini. Paling tidak ia kugunakan untuk mencari nafkah, cari ilmu, dan beribadah. Sementara Jupiter biar dipakai istri, karena lebih aman dan nyaman bagi wanita berjilbab gamis seperti dia. Manfaat semuanya khan? Alhamdulillah, dengan mengkaji ilmu dan mengamalkannya sesuai dengan kemapuan, hidup kita Insya Alloh akan lebih baik.

Komentar ditutup.