Arapaima “Paimo” gigas Plosokuning

Beberapa waktu yang lalu, tersiar berita yang menghebohkan di bantaran sungai Brantas, dengan ditemukannya ikan predator Arapaima gigas. Ikan karnivora ini sebenarnya berasal dari sungai Amazon, wilayah Brazilia.

Sebagaimana namanya, ikan air tawar ini dapat tumbuh “gigantic” hingga berukuran 2-3 meter dengan bobot hingga dua kuintal ketika dewasa. Makanannya adalah ikan-ikan air tawar, krustasea, dan hewan darat kecil yang ada di sekitar perairan.

Kenapa ikan ini berbahaya jika berada di perairan sungai lokal Indonesia? Tentu saja karena dietnya yang “maruk”. Arapaima bisa makan berkilo-kilo ikan air tawar dalam sehari, bisa dibayangkan kalau di sungai dekat kampung kita ada lima ekor saja ikan raksasa yang ganas ini. Wah, populasi ikan-ikan lokal bisa turun drastis. Belum lagi jika ikan ini beranak pinak. Bisa-bisa ikan Mujahir dan Nila hanya tinggal legenda. Oleh karenanya, menteri Susi Pujiastuti melarang keberadaan ikan ini di perairan wilayah Indonesia. Wajar dan logis.

Namun, di suatu perkampungan di Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, ikan Amerika Selatan ini dibudidayakan dan menjadi wahana pembelajaran bagi masyarakat selama lebih dari satu dasawarsa. Menurut keterangan yang tertera pada lokasi tersebut, Arapaima gigas atau biasa di sana dijuluki sebagai “Paimo” ini sudah ada di tempat tersebut sejak tahun 2007. Paimo datang bersebelas dari Brazil sebagai hadiah dari negara tersebut kepada pengelola tempat ini melalui sebuah konvensi lingkungan hidup. Selama sebelas tahun, ikan raksasa tersebut telah menjadi wahana pendidikan dan eksebisi tentang fauna di Yogyakarta. Paimo sahabat anak-anak dan orang tua di sini.

Atraksi yang cukup seru adalah ketika Paimo diberi makan. Makanannya berupa ikan-ikan kecil semacam nila, Mujahir, dan tombro. Ketika Paimo menelan potongan tubuh ikan segar tersebut, muncul suara letupan seperti ledakan senapan (atau mungkin meriam kecil) yang membuat orang terkaget-kaget. Video di bawah ini menunjukkan peristiwa tersebut.

Nah, kemarin (19 November 2018) kuajak anak-anak ke tempat ini (lagi) setelah puas mengeksplorasi masjid Pathok Negoro Plosokuning yang terletak tak jauh dari situs Paimo ini. Kami coba membuat suatu kenangan bersama Paimo sebelum… mungkin saja situs ini dilarang keberadaannya nanti. Walaupun, menurutku, pengelolanya sangat paham untuk tidak melepasnya ke perairan umum seperti sungai, sehingga tidak perlu ditutup lokasinya. Karena menurut Undang2 mengenai ikan terlarang, keberadaan ikan berbahaya ini selama hanya untuk tujuan pendidikan dan eksebisi tidaklah mengapa.

Paimo.. oh.. Paimo.

Saya akan sangat senang apabila Anda meninggalkan komentar di blog ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.