Category Archives: Catatan Harian

Perjalanan Hidup yang belum sempat terbukukan

Masjid-masjid Pathok Negoro Ngayogyakarta

Bakda sholat Dzuhur di Masjid Pathok Negoro, Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, 19 November 2018.

Alhamdulillah akhirnya aku bisa mengajak lelaki-lelaki muda ini menelusuri jejak sejarah salah satu masjid cagar budaya di Yogyakarta.
Barangkali “objek wisata” macam ini kurang kekinianlah di era viral sekarang. Yah, ndak apalah, karena menurutku masjid selalu menyimpan banyak cerita yang bisa dijadikan hikmah dan pelajaran.

Terlebih masjid semacam Pathok Negoro, terlalu sayang jika kita hanya datang dan pergi tanpa mempelajari sisi filosofis-historis darinya. Masjid tapal batas negeri Ngayogyakarta Hadiningrat ini menjadi saksi interaksi harmonis antara ‘Ulama dan ‘Umara di kala itu. Betapa pemimpin sangat perlu mendengarkan nasihat Ulama. Anak-anakku harus tahu, bahwa masjid ini dulu menjadi tonggak dakwah Islam di garis terluar dari Yogyakarta.

Anak-anak lelakiku juga harus tahu kewajiban mereka terhadap masjid-di manapun berada nanti – bahwa mendatangi Baitullah ini adalah wajib ketika adzan memanggil.

Wahai para ayah, mari ajak anak-anak kita untuk mendatangi masjid-masjid tempat diselenggarakannya ibadah berjamaah. Kita harus didik mereka agar mencintai masjid beserta sejarahnya. Supaya mereka, anak-anak kita, makin terkait hatinya dengan masjid. Dan bersaksi, bahwa ke mana dan di mana pun mereka berada, akan selalu ada keteguhan dan keteduhan dalam naungan rumah Alloh ﷻ

Iklan

Arapaima “Paimo” gigas Plosokuning

Beberapa waktu yang lalu, tersiar berita yang menghebohkan di bantaran sungai Brantas, dengan ditemukannya ikan predator Arapaima gigas. Ikan karnivora ini sebenarnya berasal dari sungai Amazon, wilayah Brazilia.

Sebagaimana namanya, ikan air tawar ini dapat tumbuh “gigantic” hingga berukuran 2-3 meter dengan bobot hingga dua kuintal ketika dewasa. Makanannya adalah ikan-ikan air tawar, krustasea, dan hewan darat kecil yang ada di sekitar perairan.

Kenapa ikan ini berbahaya jika berada di perairan sungai lokal Indonesia? Tentu saja karena dietnya yang “maruk”. Arapaima bisa makan berkilo-kilo ikan air tawar dalam sehari, bisa dibayangkan kalau di sungai dekat kampung kita ada lima ekor saja ikan raksasa yang ganas ini. Wah, populasi ikan-ikan lokal bisa turun drastis. Belum lagi jika ikan ini beranak pinak. Bisa-bisa ikan Mujahir dan Nila hanya tinggal legenda. Oleh karenanya, menteri Susi Pujiastuti melarang keberadaan ikan ini di perairan wilayah Indonesia. Wajar dan logis.

Namun, di suatu perkampungan di Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, ikan Amerika Selatan ini dibudidayakan dan menjadi wahana pembelajaran bagi masyarakat selama lebih dari satu dasawarsa. Menurut keterangan yang tertera pada lokasi tersebut, Arapaima gigas atau biasa di sana dijuluki sebagai “Paimo” ini sudah ada di tempat tersebut sejak tahun 2007. Paimo datang bersebelas dari Brazil sebagai hadiah dari negara tersebut kepada pengelola tempat ini melalui sebuah konvensi lingkungan hidup. Selama sebelas tahun, ikan raksasa tersebut telah menjadi wahana pendidikan dan eksebisi tentang fauna di Yogyakarta. Paimo sahabat anak-anak dan orang tua di sini.

Atraksi yang cukup seru adalah ketika Paimo diberi makan. Makanannya berupa ikan-ikan kecil semacam nila, Mujahir, dan tombro. Ketika Paimo menelan potongan tubuh ikan segar tersebut, muncul suara letupan seperti ledakan senapan (atau mungkin meriam kecil) yang membuat orang terkaget-kaget. Video di bawah ini menunjukkan peristiwa tersebut.

Nah, kemarin (19 November 2018) kuajak anak-anak ke tempat ini (lagi) setelah puas mengeksplorasi masjid Pathok Negoro Plosokuning yang terletak tak jauh dari situs Paimo ini. Kami coba membuat suatu kenangan bersama Paimo sebelum… mungkin saja situs ini dilarang keberadaannya nanti. Walaupun, menurutku, pengelolanya sangat paham untuk tidak melepasnya ke perairan umum seperti sungai, sehingga tidak perlu ditutup lokasinya. Karena menurut Undang2 mengenai ikan terlarang, keberadaan ikan berbahaya ini selama hanya untuk tujuan pendidikan dan eksebisi tidaklah mengapa.

Paimo.. oh.. Paimo.

Sikap Muhammadiyah Menjelang Tahun Politik 2019

Pemilu 2019 baik untuk Pilpres maupun Pileg akan melibatkan proses politik yang berkompetisi secara terbuka. Waktunya cukup panjang sampai hari pemilihan, sekitar delapan bulan ke depan. Setiap calon maupun pendukungnya akan berusaha memenangkan kompetisi politik lima tahunan itu laksana pertandingan olahraga. Sebagaimana layaknya kompetisi, setiap pihak akan kerja keras mencari dan memperoleh dukungan sebesar-besarnya dari rakyat yang akan memilih. Organisasi dan kelompok-kelompok sosial yang memiliki relasi dengan masyarakat, lebih-lebih yang memiliki akar dan jaringan yang luas seperti Muhammadiyah, tentu akan menjadi ladang pendulangan dukungan massa.

Politik dalam praktiknya akan melibatkan sikap dukung mendukung maupun sebaliknya tolak-menolak, baik yang terbuka maupun tertutup. Pro dan kontra sikap politik juga akan menjadi pemandangan lazim dalam kompetisi politik lima tahunan itu. Politik selalu berkaitan dengan siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana caranya meraih kepentingan. Semua proses politik kalau tidak terkelola dengan baik akan berlangsung keras dan mutlak-mutlakan.

Bagi Muhammadiyah tentu kompetisi politik itu juga tidak terhindarkan karena gerakan Islam ini menjadi bagian dari komponen bangsa sekaligus hidup menyatu dengan masyarakat. Warga Muhammadiyah akan menjadi lahan bagi kepentingan politik manapun dan itu alamiah dalam proses politik bagi organisasi bermassa besar seperti ini. Sikap politik warga Muhammadiyah pun beragam, satu sama lain memiliki dukungannya sendiri. Akan ada juga yang aktif menjadi relawan maupun tim pemenangan.

Hal yang perlu dipedomani seluruh anggota Persyarikatan, termasuk kader dan pimpinannya, bagaimana memosisikan dan memainkan proses politik itu termasuk dalam berpartisipasi selaku warga masyarakat yang memiliki hak pilih dilakukan secara cerdas, dewasa, bertanggung jawab, dan beretika tinggi. Selain harus sejalan dengan koridor demokrasi, namun tidak kalah pentingnya niscaya sejalan dengan kepribadian dan khittah Muhammadiyah. Jangan sampai warga, elite, dan pimpinan Muhammadiyah yang terlibat dalam kompetisi politik tersebut maupun dalam dukung-mendukung dilakukan secara serampangan.

Perbedaan pilihan politik juga menjadi hak warga Muhammadiyah. Tetapi jangan saling menyalahkan, menghujat, dan menyudutkan pihak yang berbeda. Lebih-lebih dengan menggunakan dalih agama dan atas nama Muhammadiyah. Hindari saling menghakimi dengan hilang adab dan etika. Jauhi sikap saling tuduh dan tuding yang negatif, lebih-lebih dengan menggunakan dalil agama yang menghukum dan mencerca. Jangan memproduksi ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang saling menyerang dan menghujat pimpinan persyarikatan. Jaga marwah dan posisi organisasi dengan sebaik-baiknya.

Ingatlah kontestasi politik lima tahunan itu hal yang rutin dan normal, jangan dibawa menjadi serba gawat darurat. Delapan bulan ke depan waktu masih panjang untuk mengikuti proses Pemilu 2019 itu, jangan menjadi ajang pertarungan politik yang keras dan merusakkan bangunan persyarikatan, keumatan, dan kebangsaan. Kalau ada yang keras dan berlebihan, diingatkan secara baik, bermodal semangat berwasiat dengan baik dan sabar. Jauhi sikap merasa paling benar dalam berpolitik.

Semua pihak terutama di tubuh Persyarikatan harus dapat menahan diri dengan ikhlas, cerdas, dan bijaksana. Pupuk ukhuwah dan kebersamaan. Tidak perlu satu sama lain mengklaim paling membela kepentingan Islam dan umat Islam dengan menegasikan sesama muslim lebih-lebih sesama warga Persyarikatan. Dalam konteks kebangsaan pun perbedaan politik jangan meruntuhkan kebersamaan dan keutuhan selaku bangsa Indonesia. Sangatlah rugi jika karena politik Muhammadiyah, umat Islam, umat beragama, dan bangsa menjadi terpecah-belah dan saling bermusuhan.

Pesan Haedar Nashir untuk Warga Muhammadiyah soal Pemilu 2019